Ayah, terimakasih untuk segala pengorbananmu. Kadang aku sangat benci dengan semua omelanmu. Aku sering tidak menghiraukanmu. Aku tahu, kau ingin aku jadi kebanggaanmu. Sebagai seorang putri kecil yang punya masa depan indah.
Aku benar-benar merasa bersalah telah membuatmu menangis karena kenakalanku selama ini. Aku tidak menghiraukan perkataanmu. Aku selalu menentang kehendakmu dan balik membentakmu. Ayah, aku mohon maaf. Kau lelaki yang paling baik di dunia ini. Read More>>
Permohonanku hanya satu, panjang umurlah, Yah. Aku belum sempat membahagiakanmu
Aku belum sempat membuatmu bangga karena kesuksesanku. Aku belum benar-benar berbakti untukmu.
Kau adalah lelaki yang dianugrahkan oleh Tuhan sebagai pembimbing dan penasehatku. Kau adalah cahaya yang selalu menerangi jalanku. Aku selalu belajar dari setiap kejadian dan semua ucapan dan perbuatanmu.
Dulu, kau memang tak sebaik sekarang. Kau belajar dari masalalumu untuk menjadi lebih baik. Kamu selalu mengajarkanku agar aku tidak terjerumus kepada hal-hal yang mampu menghancurkan hidupku.
Walaupun cara bicaramu kasar dan kadang menyakiti, aku tau terdapat banyak pesan yang ingin kau sampaikan padaku. Kau sebenarnya adalah lelaki melankolis yang selalu menangis setiap aku terluka. Kau adalah lelaki perasa. Namun, penyampaian pesan yang sering kau lakukan itu salah dan kadang membuat hatiku sakit.
Ketika aku memasuki masa-masa dimana mentalku sedang diuji, beranjak dari masa kanak-kanak ke masa remaja. Kau selalu memberiku pengarahan tentang cara memilih lelaki yang baik. Kau selalu mengajariku bagaimana jadi wanita yang seutuhnya.
Kadang kau meledekku untuk mencari lelaki tampan, setia, penuh perhatian dan penyayang. Kau pula yang selalu mengomentari penampilanku saat aku hendak pergi bersama kekasihku. Kadang kau selalu memarahiku saat aku tak pulang tepat waktu.
Ayah, terimakasih. Kau yang selalu mengajariku jadi wanita tegar setiap ada lelaki yang menyakitiku. Kau yang selalu menasehatiku dan menyemangatiku agar aku tak menangis lagi.
Ayah, panjang umurlah. Saat ini aku belum bisa membahagiakanmu. Tapi suatu saat nanti jika Tuhan menghendaki kita untuk tetap bersama, percayalah Ayah. Aku akan membahagiakanmu, kau akan melihatku sukses dengan caraku sendiri. Aku akan menjadi putri kecil yang kau banggakan, Yah. Tetaplah bersamaku. Tetaplah bersama kami. Aku sayang Ayah. ❤
Kamis, 29 Oktober 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar