#navbar-iframe { height:0px; visibility: hidden; display: none; }

Rabu, 23 September 2015

Aku Merindukanmu

            Aku bangun seperti biasa. Memandangi handphoneku, membaca kembali isi pesanmu dan memandangi langit-langit kamarku berharap di pagi ini aku dapat melupakan kejadian di malam itu. Kata-kata yang terucap setidaknya dapat menghancurkan saraf otakku. Derai tangis yang membanjiri kasurku pun masih sangat terasa. Yah, semua ini memang salahku yang terlalu egois. Memikirkan kepentinganku tanpa memperdulikan perasaanmu.

            Kegelisahanku meningkat, ketika aku memikirkanmu, ketika aku memikirkan pola makanmu, juga kesehatanmu. Aku bahkan masih mengkhawatirkanmu, masih diam-diam mencari tahu kabarmu, dan aku masih merasa sakit jika tahu sudah ada yang lain, yang mengisi kekosongan hatimu. Seharusnya, aku tak perlu merasa seperti itu, karena kau masa lalu, karena kita tak terikat apa-apa lagi. Benar, akulah yang bodoh, yang tak memutuskan diri untuk segera berhenti. Aku masih berjalan, terus berjalan, dengan penutup mata yang tak ingin kubuka. Semuanya gelap, tanpamu... kosong.
            Aku masalalu bagimu. Aku bukan siapa-siapa di hidupmu. Tak seharusnya aku melakukan hal bodoh seperti ini. Berharap dan terus berharap, entah kau akan merasakan do’aku atau malah mencampakkanku. Walau kini mungkin sudah ada yang menggantikan posisiku, setidaknya aku masih bisa merebut semua itu. Tapi semua itu tak mungkin. Siapa aku..? Apa hak ku untuk membatasimu..! Pertanyaan yang terlontar dari benakku masih sama, karena ketidakpekaanmu itulah yang membuatku seperti hancur. Dan tak berdaya lagi.
            Hidupku kini berbeda, aku memang masih bernafas, detak jantungku masih berjalan dengan normal, jiwaku masih melekat dengan ragaku. Namun, kesendirianku yang membuatku semakin merasakan kehilangan sosok yang selalu menghiasi detik hidupku. Dimana dirimu? Yang selalu ada disetiap aku rindu, dimana kamu..!
            Dimana jemarimu yang selalu menghapus semua derai tangisku, mengapa disaat-saat seperti ini sosokmu lenyap, hilang meninggalkanku. Aku memang terlalu bodoh memutuskan untuk berhenti dan berpikir bahwa kita tak sama lagi, walau aku masih mencintaimu. Aku masih sangat rindukan pelukanmu, yang selalu menghangatkan kedinginan tubuhku. Aku memang sangat menyesal, aku ingin kau kembali padaku.

Aku Merindukanmu Rating: 4.5 Diposkan Oleh: SHALL

0 komentar: