Aku bangun seperti biasa. Memandangi
handphoneku, membaca kembali isi pesanmu dan memandangi langit-langit kamarku
berharap di pagi ini aku dapat melupakan kejadian di malam itu. Kata-kata yang
terucap setidaknya dapat menghancurkan saraf otakku. Derai tangis yang
membanjiri kasurku pun masih sangat terasa. Yah, semua ini memang salahku yang
terlalu egois. Memikirkan kepentinganku tanpa memperdulikan perasaanmu.
Kegelisahanku
meningkat, ketika aku memikirkanmu, ketika aku memikirkan pola makanmu, juga
kesehatanmu. Aku bahkan masih mengkhawatirkanmu, masih diam-diam mencari tahu
kabarmu, dan aku masih merasa sakit jika tahu sudah ada yang lain, yang mengisi
kekosongan hatimu. Seharusnya, aku tak perlu merasa seperti itu, karena kau
masa lalu, karena kita tak terikat apa-apa lagi. Benar, akulah yang bodoh, yang
tak memutuskan diri untuk segera berhenti. Aku masih berjalan, terus berjalan,
dengan penutup mata yang tak ingin kubuka. Semuanya gelap, tanpamu... kosong.
Aku masalalu bagimu. Aku bukan
siapa-siapa di hidupmu. Tak seharusnya aku melakukan hal bodoh seperti ini.
Berharap dan terus berharap, entah kau akan merasakan do’aku atau malah
mencampakkanku. Walau kini mungkin sudah ada yang menggantikan posisiku,
setidaknya aku masih bisa merebut semua itu. Tapi semua itu tak mungkin. Siapa
aku..? Apa hak ku untuk membatasimu..! Pertanyaan yang terlontar dari benakku
masih sama, karena ketidakpekaanmu itulah yang membuatku seperti hancur. Dan
tak berdaya lagi.
Hidupku kini berbeda, aku memang
masih bernafas, detak jantungku masih berjalan dengan normal, jiwaku masih
melekat dengan ragaku. Namun, kesendirianku yang membuatku semakin merasakan
kehilangan sosok yang selalu menghiasi detik hidupku. Dimana dirimu? Yang
selalu ada disetiap aku rindu, dimana kamu..!
Dimana jemarimu yang selalu
menghapus semua derai tangisku, mengapa disaat-saat seperti ini sosokmu lenyap,
hilang meninggalkanku. Aku memang terlalu bodoh memutuskan untuk berhenti dan
berpikir bahwa kita tak sama lagi, walau aku masih mencintaimu. Aku masih
sangat rindukan pelukanmu, yang selalu menghangatkan kedinginan tubuhku. Aku
memang sangat menyesal, aku ingin kau kembali padaku.
0 komentar:
Posting Komentar