#navbar-iframe { height:0px; visibility: hidden; display: none; }

Senin, 23 November 2015

Cerita Dibalik Hujan - Cerpen Remaja


        Hari yang sangat  menyebalkan. Tugas yang menumpuk. Besok ulangan. Dan aku harus pergi ke toko buku membeli buku referensi untuk ulangan besok. Besok adalah pelajaran yang sangat-sangat menyebalkan. Rasanya aku ingin sekali mencari alasan untuk tidak berangkat, tetapi sebentar lagi ujian. Aku tidak boleh menyia-nyiakan pelajaran yang telah guru sampaikan.

Selepas pulang sekolah. Tepat jam 1 siang aku bergegas pergi ke Gramedia bersama bapak. Dalam perjalanan aku terus ngedumel tidak jelas. Bapak yang sedang menyetir mobil hanya mendengarkan semua keluhku. Karena beliau tahu, sekolah disekolahan favorit itu tidak mudah. Banyak aturan. Banyak tugas. Ini lah itu lah. Ya memang sangat menyebalkan. Tetapi beliau bangga, karena aku dapat memasuki smp favorit sekecamatanku.
“Pa, Salsha cape sekolah disana. Banyak aturannya. Tiap hari kerjaannya dimarahin. Harus ini lah itu lah.” Keluhku sambil terus memainkan handphone kesayanganku.
“Ya itu karena kamu tidak mau nurut sama guru. Kalo kamu nurut sama guru pasti kamu jadi murid kesayangan. Kamu tau? Bapak dulu punya satu guru paling galak. Bapak sering minggat waktu pelajaran beliau. Tetapi saat bapak kesulitan mengerjakan soal beliau selalu membimbing bapak. Beliau sangat berjasa.”
“Bapak alay. Lagian juga guru jaman sekarang kalo ngga ngasih tugas banyak, ulangannya susah, Pak.” Ucapku kesal.
“Kenapa susah? Ya karena kamu malas belajar. Coba kalo hapenya bapak sita. Pasti kamu rajin belajarnya.”
“Eh.. jangan, Pak. Iya deh, aku bakalan lebih giat belajar, Pak.”
Karena obrolan-obrolan tidak penting tadi. Tak terasa kami sudah sampai di tempat parkiran. Bapak memarkirkan mobil dan aku bergegas menuju Gramedia.
Setelah memilih beberapa buku, kemudian aku membayar buku tersebut di kasir. Saat membayar buku, aku mendapat sms dari bapak untuk menunggu bapak dikafe dekat toko buku tersebut karena bapak akan pergi mengunjungi temannya.
Uh, sial. Ternyata diluar hujan deras. Mau tidak mau aku harus berlari menuju kafe itu. Saat duduk di kafe ada seseorang yang menghampiriku.
“Salsha ya? Hai, ini aku Sandy.” Sapanya padaku.
“Sandy? Sandy Herdriansyah?” tanyaku sambil terus memandangi wajahnya. Dia adalah teman lamaku sewaktu TK. Yah, Sandy aku masih ingat jelas bagaimana culunnya dia saat berada di TK. Namun sekarang, ia adalah cowo ganteng yang keren.
“Hehe, iya. Kamu abis dari mana kok basah gini sih?” tanyanya sambil melemparkan senyum manis dan memecahkan lamunanku.
“Eh.. ini, aku tadi abis beli buku di Gramedia. Kamu abis dari mana, San?”
“Abis nganterin mamah nih belanja. Pesen minum yuk? Aku yang traktir deh.” Ucapnya sambil mengeluarkan lembaran uang.
“Tumben nih baik. Hahaha.” Ledekku.
“Apa sih yang engga buat cewe cantik kaya kamu. Hahaha.” Sandy tertawa dan kemudian memanggil pelayan kafe.
“Ih apaan sih, San.”
“Ih baper. Hahahaa...” ledeknya padaku.
Entahlah, ada perasaan yang aneh dalam diriku ini. Aku terus memandangi wajahnya. Dan ia mengagetkan ku untuk menanyakan apa yang akan aku pesan.
“Weh, malah ngeliatin mulu. Buruan pesen gih.”
“Eh iyaa.. mm, pesen apa ya? Ini aja deh mm. Cappucino sama roti bakar.”
“Mbak, cappucino sama roti bakar 2 yah.” Ucapnya kepada pelayan itu.
“Ih apaan coba pake ngikut-ngikut.” Ucapku kesal.
“Haha. Yaudah si ngga usah nangis.”
Sambil menunggu pesanan kami datang, aku pun menanyakan keadaan keluarganya karena kami sudah lama sekali tidak bertemu.
“Eh mamah kamu sehat kan?” tanyaku sambil meletakkan hp diatas meja.
“Alhamdulilah.. ibu gimana? Bapak gimana? Adik-adik kamu? Mereka sehat kan?”
“Iya alhamdulilah Cuma mbah sekarang ada di RS.”
“Hah? Sakit apa?” tanyanya kaget.
“Ngga tau aku, ya biasalah orang tua. Paling juga kecapean. Mbah kan tiap pagi ke kolam buat ngasih makan ikan.”
“Getwellsoon buat mbah kamu ya, Sal.”
“Hehe, iya makasih.”
Pesanan kami pun datang. Saat kami sedang menikmati makanan kami, Sandy terlihat melamun memandangiku.
“Ngeliatin mulu, ntar naksir.” Ucapku.
“Emang iya.. eh” jawabnya kaget.
“Haha.. ngaco.”
“Hmm.. emang ngga boleh?”
“Kok nanya gitu sih?”
Dia diam sambil meminum cappucino-nya. Kemudian handphonya berdering. Mamahnya menelpon.
Sandy kamu di kafe aja ya, mamah lagi ngejenguk mbahnya Salsha di RS. Jangan kemana-mana ya.” Ucap mamah Sandy dari handphonenya, karena di louspeaker.
“Iya ma, ini juga aku lagi sama Salsha.”
Iya, yang penting kamu disitu aja ya. Jangan kemana-mana diluar lagi hujan.
“Iya mamah bawel, yaudah ya ma, Assalamu’alaikum..” ucapnya sambil menutup telepon.
“Mamah kamu ke RS?” tanyaku.
“Iya nih. Tapi kok kita ngga diajak yah.” Jawabnya sambil memasukan handphonenya ke dalam tas.
“Aku juga curiga. Haha.. yaudahlah lupain, ngga penting. Udah lanjut lagi aja makannya ntar malah dingin.”
Tiba-tiba, Sandy memegang tanganku. Aku hanya diam, kami saling berpandangan.
Oh Tuhan, perasaan apa ini. Kenapa jantungku berdegup kencang.” Batinku.
“Aku pengin ngomong sama kamu.. gimana yah aku juga bingung gimana ngomongnya.” Ucapnya sambil terus memandangku.
“Ngomong aja ngga papa kok, San”
“Gini yah, aku tuh sebenernya suka sama kamu. Aku sayang sama kamu. Dari TK loh. Haha.. lucu yah emang. Tapi gimana lagi, Sal? Aku ngga bisa boongin perasaan aku. Kamu mau ngga jadi pacar aku?” tanya Sandy dengan serius.
Aku terdiam. Aku bingung harus menjawab apa. Aku juga menyukai Sandy dari dulu. Kemudian aku memberanikan diri untuk menjawab pertanyaannya.
“Hm.. ya aku juga suka loh sama kamu. Tapi bentar lagi aku ujian, San.”
“Iya aku tau, kamu ngga harus jawab sekarang kok. Nanti ada waktunya.” Ucapnya sambil melepaskan tanganku.
Kulihat ada rasa kecewa diwajahnya. Dan diapun mengajakku pulang.
“Udah sore, pulang yuk?” ajaknya.
“Kamu marah sama aku?”
“Haha.. marah buat apa coba. Ngga ada hak kali. Yaudah yuk pulang. Aku bawa mobil inih.”
“Oke deh”
Ia membayar semua bill. Dia menggandeng tanganku. Kami berjalan menuju parkiran sambil hujan-hujanan. Dia membisikan semua kalimat ditelingaku.
“Hujan ini bakal janji saksi bisu kalo aku sayang banget sama kamu, Sal.”
Aku berlari meninggalkannya. Dia tetap diam ditempat itu.
“Ih kok diem sih? Aku juga sayang kamu wlee. Hahaaa..”  ledekku.
Kemudian dia lari mengejarku. Kami bermain kejar-kejaran dibawah hujan. Aku sangat bahagia bersamanya. Dia membuatku nyaman. Aku mencintainya. Aku sangat berterimakasih kepada hujan telah mempertemukanku kembali denganya.
“Terima kasih, Hujan” batinku.

Cerita Dibalik Hujan - Cerpen Remaja Rating: 4.5 Diposkan Oleh: SHALL

0 komentar: